Translate

Kamis, 22 November 2012

ilmu karomah syeikh abdul qodir al jaelani

Wejangan Syekh Abdul Qodir Jaelani, 

 ³ Apa saja yang Allah anugerahkan kepada manusia
berupa rahmat, maka tidak ada seorangpun yang dapat
menahannya, demikian juga apa saja yang ditahan oleh
Allah maka tidak ada seorangpun yang sanggup untuk
melepaskannya. Dia lah Yang Maha Perkasa lagi Maha
Bijaksana.´ (QS. Al Fathir, ayat 2)

Sebelum manusia sadar akan hubungan dirinya dengan Tuhannya, Penciptanya, samalah
keadaannya saat itu dengan mati. Hidup ini belum berarti apa-apa jika belum mempunyai
kesadaran akan arti hidup.
Sebelum hal ini kita sadari, sama saja arti hidup ini dengan mati karena hidup yang tidak
berarti sama halnya dengan mati. Dapat lebih ditegaskan lagi bahwa kepercayaan kepada Allah
Azza wa Jalla itulah permulaan hidup. Dan kehilangan kepercayaan sama saja artinya dengan
mati.

Kesadaran menyebabkan kita bangkit dari kelalaian. Kesadaran itu sangat mahal harganya dan
sangat tinggi nilainya. Kesadaranlah yang menumbuhkan semangat dalam diri kita untuk
melangkah lebih maju.
Tatkala kesadaran telah timbul, itulah puncak dari kemenangan. Karena kita tidak akan ragu-
ragu lagi untuk meneruskan perjalanan menuju tujuan yang nyata. Tidak lagi meraba-raba.
Hatipun dikuatkan, segala rintangan dan halangan diatasi dan diampuni.

Apabila telah sadar, kita akan terus berfikir, dimana aku, darimana aku, akan kemana aku,
sampai dimana perjalananku, serta apa yang aku peroleh. Hatipun membulat teringat hanya
kepada satu tujuan yang dituju. Dengan terang yang telah mulai tumbuh dalam hati, memberi
sinar kepada fikiran, membuat pandangan menjadi jauh. Pandangan mata dan pandangan batin.
Di luar nampak alam, di batin nampak Tuhan Pencipta alam.
Bertambah dalamnya makrifat kepada Allah dan tekunnya ibadah, bertambah teranglah sinar
itu. Itulah yang dimaksudkan dengan CAHAYA IMAN. Kekuatan ibadah kepada Tuhan adalah
laksana penggosok sehingga sinar itu lebih bersih dan lebih cemerlang.

Ahli-ahli tasawuf Islam mengatakan bahwa iman itu adalah QAULUN WA ‘AMALUN
(perkataan dan perbuatan). Iman itu bisa bertambah-tambah, tetapi juga bisa berkurang. Bisa
berkurang dan berkurang sehingga habis sama sekali, hanya tinggal nama yang terletak dalam
KTP.

Nabi saw pernah mengibaratkan bahwa cahaya iman itu mempunyai pula ukuran biasa, tinggi,
dan lebih tinggi. Cahaya tersebut bisa menyinari jauh sampai keluar negeri bahkan keseluruh
muka bumi. Tetapi ada orang yang cahayanya hanya disekeliling dirinya, ada pula yang tidak
bercahaya sama sekali dan ada yang dulunya bercahaya lalu dicabut oleh Allah cahaya itu
dikarenakan dirinya kotor oleh perbuatan maksiat.
Oleh karena itu dosa atau maksiat sangat mudah mengotori dan menghilangkan cahaya iman.
Dosa itu diumpamakan dalam Al-Quran dengan bintik kecil yang mula-mula sekali hinggap
dihati. Jika bintik kecil sudah mulai terbentuk dihati, maka kita harus berusaha segera
membersihkannya agar bintik itu segera hilang. Jangan biarkan bintik yang baru muncul karena
dosa baru, tanpa pembersihan. Takutlah jikalau berturut-turut bintik itu datang dan datang lagi
sehingga hati akhirnya dipenuhi dengan bintik hitam dan seluruhnya menjadi hitam yang
menutupi cahaya yang akan keluar dari dalam hati. Pembersihan bintik yang mula-mula itu
adalah dengan tobat. Memohon ampun kepada Allah atas dosa yang telah terlanjur dilakukan,
dan dengan kekerasan hati menghentikan dosa yang sedang diperbuat sekarang, lalu berjanji
dalam hati dengan Tuhan bahwa tidak akan berbuat lagi dimasa yang akan datang. Lalu dengan
diikuti amal kebajikan yang berturut-turut sampai pengaruh dosa yang dahulu itu habis
tertimbun oleh banyaknya kebajikan yang dilakukan. Dengan demikian cahaya itu timbul
kembali. Bahkan dari sebab kesungguhan itu, besar kemungkinan cahayanya akan lebih
mengkilat, lebih cemerlang dan gemilang daripada dulu.

Cahaya iman itu bukan saja memberi cahaya hidup lahiriah yang sekarang, bahkan dapat
memperpanjang umur dan membuat orang jadi kaya raya.
Kita semua maklum bahwa umur yang telah ditentukan Allah tidak bisa ditambah atau
dikurangi. Demikian pula rezeki yang telah ditentukan tidak bisa kurang atau lebih. Semua
sudah tertulis dengan pasti dalam ilmu Tuhan. Tetapi dengan iman bukan saja cahaya
cemerlang menjadi bertambah, bahkan umur dapat bertambah panjang dan rezeki dapat
berlipat ganda menjadi kaya raya, yaitu nilai umur itu diperpanjang dan nilai harta itu
dipertinggi.

Jika dalam hidup ini kita menanamkan kasih sayang atau cinta kasih, pastilah umur kita akan
panjang bahkan kadang-kadang lebih panjang dari usia itu sendiri. Kamu telah lama mati,
tulang telah hancur dalam kubur, tetapi umur/nama masih ada. Yaitu karena jasa baik yang
ditinggalkan, karena ilmu yang bermanfaat/berfaedah yang diajarkan, karena anak-anak yang
diberi pendidikan dengan baik. Harta bendapun demikian pula. Ada orang yang kelihatan
lahirnya kaya raya, namun miskin, jiwanya terus dalam kesepian, karena sahabatnya hanya
harta itu saja, dia tidak berhasil merasa kenyang dengan sesama manusia. Orang tidak
merasakan faedah dari hartanya yang banyak itu. Sebaliknya ada yang hartanya sederhana saja
namun dia kaya raya. Kaya dengan kasih sayang, kaya dengan sahabat dan teman, kaya dengan
budi yang dia tanamkan, walau sudah lama meninggal dunia tetapi budinya yang baik dikenang
orang sepanjang masa.
Iman kepada Allah pastilah menumbuhkan cinta. Benci itu tidak dapat disertai iman. Dan iman
adalah menumpuk kasih, iman tidak mengenal dendam.

Itulah sebabnya manusia yang memperdalam kepercayaannya kepada Allah Azza wa Jalla
bertambah lama bertambah cemerlang jiwanya. Dia mempunyai sinar cahaya iman yang makin
lama makin gemilang. Sekalipun dia telah meninggal, cahaya itu masih tetap hidup dalam
kecemerlangannya.

ILMU
1. Agama kamu dapat hancur dan lenyap disebabkan oleh 4 hal :
?    Kamu tidak mau beramal terhadap sesuatu yang telah kamu ketahui.
?    Kamu melakukan sesuatu pekerjaan dengan dasar yang tidak kamu ketahui.
?    Kamu tidak mau belajar terhadap sesuatu yang tidak kamu ketahui, bahkan kamu
membiarkan dirimu kekal dalam kebodohan.
?    Kamu menghalangi orang lain untuk belajar sesuatu yang tidak mereka ketahui.

2. Dalam mencari ilmu seharusnya :
?    Diusahakan diperoleh dengan metode burung gagak, yaitu jika mencari mangsa
berangkat pagi-pagi benar, demikian pula ketika mencari ilmu.
?    Dengan kesabaran unta. Sabar dalam menanggung beban berat yang dialami ketika
mencari ilmu.
?    Dengan kerakusan babi hutan. Kerakusan terhadap ilmu, giat belajar.
?    Dengan kecemburuan anjing, dalam menjaga ilmu.

3. Wahai hamba Allah, janganlah kamu sia-siakan hidup berdasarkan ilmu tanpa menjaganya
dengan pengamalan. Karena hal itu tidak bermanfaat bagimu. Untuk apa kamu berilmu kalau
tidak kamu amalkan. Berilmu itu wajib bagimu dan mengamalkannya pun wajib, tidak bisa
dipisah-pisahkan antara ilmu dan amal, sebab amal itu butuh ilmu dan amal merupakan suatu
kewajiban yang harus kamu lakukan.

Ibarat sebuah pohon, ilmu adalah batangnya sedang amal adalah buahnya. Hidup ini harus
berilmu, dan dari ilmu itu menghasilkan buah, dan buah itulah yang disebut amalan kita.

4. Ilmu itu dijadikan agar diamalkan, bukan hanya untuk dipelihara saja. Belajarlah dan
beramallah lalu kenali orang lain. Kalau kamu berilmu kemudian rela beramal, maka ilmu itu
terucap darimu ketika kamu diam. Maka berbicaralah kamu dengan lisan yang dihiasi amal.
Jangan sampai kamu berbicara tentang ilmu tetapi tidak kamu sertai dengan amal, bagaikan
pohon tidak berbuah. Seorang ulama berkata : ³Ilmu siapa tidak bermanfaat, maka tidak
bermanfaat pula tuturnya.´

Wahai hamba Allah, orang beramal dengan ilmu akan mendapat manfaat dengan ilmu
tersebut, baik untuk dirinya sendiri maupun untuk orang lain.

5. Janganlah kamu datang hanya membawa sepucuk ilmu lalu merasa cukup. Sesungguhnya
ilmu itu harus disertai amal. Ilmu tanpa amal bagaikan pohon tidak berbuah, dan beramal
tanpa ilmu bagaikan membangun rumah diatas pondasi yang rapuh, tak akan dapat tegak.
Janganlah kamu menjadi penjual amal dengan ilmu, karena diantara kamu banyak orang
yang pandai berpantun disertai ibarat-ibarat dan kebenaran-kebenaran meliputi balaghahnya
namun tidak disertai dengan amalan, bahkan tidak punya rasa ikhlas. Seandainya kamu mau
melatih hati, tentu anggota tubuhmu ikut terlatih, karena hati itu pusat organ tubuh yang ada.
Ilmu itu seperti kulit dan amal bagaikan kerangka. Kulit itu bisa dipelihara jika kerangkanya
terpelihara, jika kulitnya rusak, maka rusak pula kerangkanya. Jika amal tidak ada maka ilmu
itu lenyap dengan sendirinya. Mana mungkin ilmumu bermanfaat bagimu kalau tidak kamu
amalkan. Wahai orang berilmu, jika kamu ingin memperoleh kebaikan didunia dan diakherat,
amalkanlah ilmumu, ajarilah manusia. Hai orang kaya, jika kamu ingin baik didunia dan di
akherat, ringankanlah beban orang-orang fakir.

6. Perbaguslah persahabatanmu dengan Allah, takutlah kepada-Nya, beramallah dengan
hukum-hukum-Nya, tunaikan hak-Nya. Apabila kamu beramal menggunakan hukum Allah
berarti telah menunaikan amal dengan usahamu, bahkan kamu termasuk mendorong orang
lain untuk mengamalkan hukum-hukum-Nya. Ilmu yang kamu miliki dan amalkan, setelah
kamu amalkan akan timbul ilmu lagi bagimu tanpa kamu pelajari, ini adalah anugerah Allah
karena perbuatan baikmu.

7. Satu kali kecelakaan bagi orang jahil (bodoh, tidak berilmu) yaitu karena tidak mau belajar,
dan tujuh kali kecelakaan bagi orang beriman karena menyia-nyiakan ilmunya.

Orang berilmu tetapi tidak beramal, maka lenyaplah berkah ilmunya dan lepaslah tanda
baginya. Berilmu lalu beramal kemudian memperbaiki cinta Allah, maka apabila cintamu
bersih niscaya hal itu semakin mendekatkan kamu kepada-Nya dan mengosongkan yang lain.
Jika dikehendaki, perbuatan tersebut dapat memperharum namamu dihadapan mahluk,
bahkan semakin menambah pembagianmu.

8. Wahai hamba Allah, janganlah kamu menghina ahli hukum dan ulama, karena ucapan
mereka menjadi pengobat dan rancangan kalimatnya sebagai buah. Terimalah ulama yang
bertakwa, agar kamu memperoleh berkah. Kamu jangan menemani ulama yang tidak beramal
dengan ilmunya, karena apabila kamu bergaul dengan mereka tentu bencana akan menimpa
kamu, mereka malah mencelakakan kamu.

9. Celaka kamu, sampai kapan kamu mempersibuk dirimu dan sibuk mengurusi keluargamu
sampai lupa mengabdi kepada Allah Azza wa Jalla. Seorang ulama berkata : ³Apabila kamu
mengajar anakmu, sertakanlah niat dan agar disibukkan dia bersama Allah.´ Ketahuilah
bahwa niat itu bisa membuat baiknya sesuatu dan berharga tinggi. Ajarilah anakmu dengan
ilmu tauhid dan akhiri dengan ilmu yang menjurus ibadah kepada Allah Azza wa Jalla.

DUNIA
?    Harta bisa membawa kepada berbagai kedosaan, dikarenakan sebagai sarana nafsu yang bermacam-macam. Seorang yang tidak mempunyai biaya untuk melakukan suatu
kedosaan, hatinya tidak bergerak untuik melakukan. Timbulnya hasrat untuk berbuat
adalah bila diri kita merasa sanggup, dan harta merupakan sumber kesanggupan yang
menggerakkan orang kepada berbagai perbuatan maksiat dan perbuatan dosa. Jika
menurutkan keinginan diri niscaya akan binasa, dan jika ditahan pahit terasa. Itulah
sebabnya bersabar ketika sanggup adalah lebih berat, ujian senang lebih berat dari pada
ujian susah.
?    Harta itu menarik kepada bermewah di bidang yang mubah. Mana bisa orang yang
berharta hanya makan makanan yang sangat sederhana, berpakaian seadanya, seperti
yang dilakukan oleh para Nabi dan Rasul. Kalau sudah terbiasa menikmati keduniaan dan
membiasakan diri dengan kemewahan, lalu kemewahan menjadi kebiasaan dan hobby
yang tak dapat ditinggalkan lagi, mungkin suatu saat akan tidak dapat membiayainya dari
usaha yang halal. Maka terjerumuslah kita ke bidang syubhat dan terbenam dalam ria,
berdusta, munafik dan timbul semua sifat dan ahlak tercela, agar urusan dunianya dapat
terurus dan dapat terus hidup mewah.
Orang yang banyak harta akan banyak pula kebutuhannya/ketergantungannya kepada
orang lain, dan barangsiapa yang memerlukan orang lain bisa terpaksa harus ambil muka
kepada terhadap mereka. Dari ketergantungan/keperluan terhadap orang lain, timbullah
persahabatan dan permusuhan yang dapat menjadi sumber iri, dengki, ria, sombong,
berdusta, hasud, fitnah, bergunjing dan semua dosa hati dan dosa lidah, yang selanjutnya
dapat menular ke seluruh aspek. Semuanya itu timbul dikarenakan harta dan didesak
kepentingan dalam menjaga dan mengurusnya.
?    Tidak dapat dipungkiri bahwa mengurus harta itu menyebabkan orang lalai dari
mengingat Allah, dan setiap hal yang mengganggu dari mengingat Allah adalah suatu
kerugian.
Nabi Isa a.s. menerangkan bahwa dalam berharta terdapat 3 macam bahaya :
•    Diambil dari sumber yang tidak halal.
•    Jika diambil dari sumber yang halal, dibelanjakan tidak pada tempatnya.
•    Jika dibelanjakan pada tempatnya, kita akan terganggu dari mengingat Allah karena
mengurusnya.

2. Bebaskanlah dirimu dari kepentingan dunia karena dalam waktu dekat ini kamu akan
tercabut daripadanya, dan dunia yang kamu cari dengan susah payah itu akan kamu
tinggalkan dengan begitu saja, dan yang kamu tumpuk-tumpuk itu akan dijadikan rebutan
oleh ahli warismu, yang selanjutnya akan mencelakakan keluarga kamu sendiri. Maka,
janganlah kamu mencari kehidupan dimuka bumi ini untuk bersenang-senang dengannya.

Kehidupan dunia adalah kehidupan yang semu, kehidupan yang penuh tipuan dan permainan.
Sampai kapanpun kalau manusia itu hanya mementingkan kehidupan dunia, maka dia akan
tertipu dan akan dipermainkan oleh kehidupan dunia itu sendiri, dia akan dijadikan budak
dunia, disuruh ini dan itu, disuruh pergi kesana kemari, hanya untuk mengurus urusan dunia
dan kesenangannya yang tak pernah kunjung datang.
Mengejar kehidupan dunia adalah mengejar bayangan fatamorgana, yang disangkanya penuh
air kesejukan, padahal semua hanya bayangan, semakin dikejar semakin jauh dan setelah
didekati hanya panas terik matahari, lalu fatamorgana itu pindah ke tempat yang lebih jauh
lagi, dimana sampai matipun belum ketemu apa yang sebenarnya dicarinya, sebab yang
dicari adalah kehidupan semu.

3. Wahai hamba Allah, kamu pasti merasakan kemanisan, kepahitan, kebaikan, kerusakan,
kekotoran dan kejernihan.  Apabila kamu ingin bersih secara sempurna maka lepaskanlah
hatimu dari mahluk, jalinlah hubungan dengan Allah Azza wa Jalla, lepaskan dunia,
tinggalkan keluargamu, dan serahkan mereka kepada Allah karena semua itu hanya ada di
tangan Allah, maka kamu pasrahkan saja sepenuhnya kepada Allah, kamu didik mereka
untuk mengabdi kepada Allah.

Wahai hamba Allah, janganlah kamu menjadi manusia jahil yang khawatir anaknya
kelaparan, yang hatinya goncang karena memikirkan nasib perekonomian anak-anaknya
nanti, tetapi tidak memikirkan apa yang hendak disembah anak-anaknya itu, menyembah
dunia atau menyembah Allah Azza wa Jalla.

4. Kebanyakan manusia itu cenderung mendahulukan istri dan anak-anaknya daripada
mendahulukan ridlo Allah. Sesungguhnya aku melihat setiap gerak menuju kepada
keduniaan, setiap tujuanmu, istrimu, anak-anakmu, dan apapun itu hanyalah barang yang
semu. Kamu lebih mementingkan urusanmu, urusan anak isterimu, kamu tumpuk harta benda
untuk perbekalan anak isterimu, kamu berbuat dusta dan munafik karena mementingkan
urusan dunia, agar dapat menumpuknya, tetapi tidak kamu fikirkan bagaimana nasibmu,
nasib anak istrimu sehingga kamu dan keluargamu tidak punya akidah yang kuat, sehingga
hatimu dan hati keluargamu goncang, tidak tahu siapa Tuhan.

5. Wahai hamba Allah, tinggalkanlah olehmu sesuatu yang dibagikan, dan sesuatu yang tidak
dibagikan, karena pencarianmu terhadap sesuatu yang belum Allah bagi/beri adalah amat
dibenci dan tercela, sedang pencarianmu terhadap sesuatu yang telah Allah bagi adalah cela
dan aib.

6. Wahai hamba Allah, berfikirlah kamu bahwa rezeki itu menurut ketentuan pembagiannya.
Jika sudah terbagi maka rezeki itu tidak akan bertambah maupun berkurang, tidak dapat
dipercepat maupun diperlambat. Janganlah kamu merasa ragu atas jaminan Allah. Janganlah
kamu loba dan rakus mencari sesuatu yang tidak dibagikan kepadamu.

7. Wahai hamba Allah, renungkanlah dalam-dalam siapakah yang memberi makan dirimu
tatkala kamu masih dalam perut ibumu ? Setelah lahir, anehnya kamu bergantung pada diri
sendiri dan orang lain, pada uangmu, pada perdaganganmu, pada teman-temanmu, dan
pemimpinmu. Ingatlah bahwa setiap orang yang bergantung kepada mereka, maka orang itu
menuhankan mereka. Setiap orang yang kamu takuti atau kamu harap, berarti kamu
pertuhankan. Setiap orang yang kamu pandang punya hubungan dengan datangnya mudharat
dan manfaat, maka berarti kamu pertuhankan.

8. Wahai hamba Allah, ketahuilah olehmu bahwa dunia itu sudah terbagi sejak semula. Oleh
karena itu tinggalkan pencarian dunia yang menimbulkan kesusahan. Kamu bekerja itu
adalah ibadah, kamu tidak boleh malas hidup didunia akan tetapi semangat kerjamu itu
bukanlah untuk mencari dunia. Maksudnya adalah kamu harus merasa cukup dengan apa
yang kamu peroleh, kamu harus bekerja dimana didalam bekerja janganlah mencari sesuatu
yang kamu anggap kurang sebab sesuatu yang kamu anggap kurang itu memang bukan
bagianmu, bukan milikmu. Inilah yang dinamakan sifat qonaah, yaitu hati merasa cukup
terhadap sesuatu yang diperoleh dan terus bekerja karena manusia harus bekerja dan
beribadah kepada-Nya.

9. Harta dalam kehidupan manusia mempunyai peran yang sangat penting. Dengan harta
manusia dapat selamat dan berbahagia didunia dan akherat jika harta bendanya dipergunakan
untuk berbuat kebaikan. Banyak manusia jadi hancur karena harta disebabkan harta
bendanya dijadikan sarana untuk melakukan perbuatan dosa. Maka, berhati-hatilah terhadap
bahaya yang tersimpan dalam harta. Harta itu bagaikan ular atau kalajengking, siapa yang
tidak pandai mengurusnya akan tergigit atau tersengat, gigitannya ataupun sengatannya
mengandung racun yang mematikan. Akan tetapi, racun tersebut bagi orang yang berilmu
dapat dijadikan obat yang bermanfaat bagi manusia.

Wahai hamba Allah, jika kamu memandang harta, pandanglah dari sudut bahayanya, jangan
kamu pandang dari segi manfaatnya. Jika kamu pandang dari sudut bahayanya, harta itu akan
kamu pergunakan untuk beribadah, tetapi jika kamu pandang dari sudut manfaatnya, maka
harta itu akan kamu simpan untuk kepentingan keluargamu sehingga kamu menjadi manusia
yang bakhil, menjadi manusia terkutuk dan rakus terhadap harta.

10. Wahai hamba Allah, sebentar lagi kamu akan mati, maka ratapilah jiwamu sebelum diratapi
orang. Kamu menyimpan banyak dosa yang mengakibatkan terkena siksa yang
menghinakan. Hatimu terlalu menderita karena cinta dan loba dunia. Maka tinggalkanlah
pencarian yang menganiaya dirimu, terimalah apapun yang mempercukup dirimu. Akal tidak
mungkin pernah gembira dengan sesuatu yang diperoleh, halalnya dihisab, dan haramnya
disiksa. Naasnya, kebanyakan manusia telah lupa siksa dan hisab.

11. Terhadap apapun yang dirimu berada didalam dunia ini tidak membawa manfaat untukmu
dihari kiamat, bahkan bisa membawa sengsara bagimu. Akan tetapi jika dunia ini kamu
letakkan diluar dirimu, kamu letakkan untuk kebajikan, bukan untuk dirimu sendiri, maka hal
tersebut akan membantu dirimu, menjadi pelayanmu, bukan kamu yang menjadi pelayan
dunia. Maka gunakanlah dunia ini sebagai alatmu untuk mencari dan mendekat kepada
Allah, dan jangan sampai dirimu diperalat dunia sehingga kamu dijauhkan dari Allah.

12. Wahai orang yang mengadu kepada mahluk, bencana akan menimpamu. Mana mungkin
pengaduanmu bisa bermanfaat bagimu. Pengaduan kepada mahluk tidak akan bermanfaat
atau membawa mudharat, sebab mahluk itu tidak bisa memberi manfaat ataupun memberikan
bahaya. Apabila kamu berpegang teguh kepada mereka dan menyekutukan Allah, adalah
menjauhkan dirimu dari-Nya sedang kemarahan-Nya tertuju kepadamu, dan Dia tertutup
bagimu.

13. Wahai orang yang berpaling dari Allah dan dari orang-orang siddiq dari hamba-Nya karena
menghadap mahluk, sampai kapan kamu menghadap mereka ? Ditangan mereka tidak
mengandung nista atau manfaat, juga bukan pemberi atau pencegah. Tiada pembeda antara
mereka dan seluruh manusia jika dikaitkan dengan nista dan manfaat. Penguasa hanya satu,
Pemberi nista hanya satu, Pemberi manfaat hanya satu, Penggerak dan Pendiam hanya satu,
Pemberi dan Pencegah juga hanya satu. Dia Maha Pencipta dan Pemberi rizki. Dia Qadim
lagi Azali untuk selamanya. Dia ada sebelum mahluk, sebelum nenek moyangmu atau orang-
orang kaya diantara kamu. Dia Pencipta langit dan bumi dengan segala isinya. Dialah Allah
Ta¶ala, Tuhan Yang Maha Luhur.

14. Wahai hamba Allah,  seluruh mahluk ini kedudukannya hanya sebagai alat untuk
memperdekat dan mengabdi kepada-Nya, tidak lebih dari itu. Allah yang mengaturnya, dan
siapa yang memahami ini akan memperoleh manfaat dengan alat dan mengetahui Zat
Pengatur disana. Berhenti bersama mahluk sangatlah tercela dan berhenti bersama Allah
adalah terpuji dan sebagai kebaikan serta sebagai kenikmatan.

15. Wahai hamba Allah, jika kamu ingin bahagia keluarkan mahluk dari hatimu, janganlah kamu
takut atau mengharap mereka, jangan berjinak bersama mereka, janganlah hatimu kamu
lekatkan kepadanya, karena hati yang lekat dengan mahluk akan menemui kesusahan dan
kegoncangan. Ingatlah bahwa kebahagiaan hati itu bila untuk mengenang Tuhan, untuk
melihat-Nya.

16. Wahai hamba Allah, dahulukan akherat atas dunia tentu kamu akan meperoleh kebahagiaan
dari keduanya. Apabila dunia lebih kamu dahulukan dan lebih kamu pentingkan daripada
akherat, niscaya kamu akan merugi secara total, bahkan siksa selalu menantimu.

Apabila kehidupan akherat lebih kamu utamakan dan lebih kamu pentingkan, maka semua
urusanmu di dunia ini selalu jadi baik, kamu akan hidup senang didunia dan akherat. Tetapi
kalau kehidupan dunia lebih kamu pentingkan, maka sudah pasti kamu akan tersiksa tatkala
hidup didunia dimana kamu tidak akan menemukan kesenangan hidup didunia, akan selalu
merasa kurang, selalu tidak puas terhadap apa yang kamu peroleh, dan diakherat nanti kamu
akan memperoleh siksa yang sangat pedih yang disebabkan usahamu didunia yang selalu
menyia-nyiakan kehidupan akherat.

Wahai hamba Allah,  dengarkanlah seruanku ini. Mengapa kamu sibuk berurusan dengan
sesuatu yang tidak diperintahkan kepadamu untuk melakukannya. Apabila kamu tidak
berambisi dan tidak rakus terhadap kenikmatan dunia, tentu Allah memperkekal pertolongan-
Nya  dan meng-anugerahkan  taufik pada saat pencabutan kembali dunia itu. Apabila kamu
ambil sesuatu dari dunia sama halnya kamu sia-siakan barokah yang ada disana.

17. Dunia adalah sebuah gedung khusus untuk beramal dan bersabar atas datangnya cobaan dan ujian. Dunia adalah gedung tempat berupaya, dan akherat adalah gedung khusus untuk
beristirahat.

Orang beriman ketika didunia giat melaksanakan tugasnya tentu ia akan leluasa beristirahat
di akherat. Tetapi bagi yang amat suka beristirahat sekarang, mengulur-ulur tobat dari hari
kehari, bulan ke bulan, bahkan dari tahun ke tahun sampai habis masa tobatmu, maka dalam
waktu dekat akan menyesal. Jika tidak bisa dinasehati, tidak bangun dan membenarkan,
maka kamu selamanya tidak akan mengenal kebenaran.

18. “Dunia itu ladang akherat, maka barangsiapa menanam kebaikan, tentu dia akan menerima
hasilnya dengan rasa puas, dan barangsiapa menanam keburukan, maka akan menghasilkan
kehancuran”. (Alhadits)

Bila datang kematian kepadamu, barulah kamu sadar, akan tetapi kesadaranmu pada saat itu
tidak berguna sama sekali.

³Ya Allah, bangunkanlah kami dari tidur yang melalaikan Engkau, jagalah kami dari
ketumpulan yang melupakan Engkau.´ Amin.

QONAAH
1. Orang yang tidak mempunyai harta dan membutuhkannya disebut fakir. Dalam menyikapi
kebutuhan harta tersebut, terdapat 5 keadaan :

•    Jika diberi harta dia tidak suka, enggan mengambilnya dan benci karena dia menjaga
dirinya dari kejahatan, bahaya serta gangguan dari harta. Orang fakir golongan ini
dinamakan orang ZUHUD, yaitu orang yang memandang harta sama dengan memandang
batu dan tanah. Ini  adalah tingkat tertinggi.
•    Tidak gemar kepada harta dan tidak pula membencinya. Dia zuhud apabila memperoleh
harta. Orang seperti ini adalah orang yang RIDLO.
•    Suka kepada harta daripada tidak ada, tetapi kesukaannya itu tidak sampai kepada rakus,
yang selalu kurang dan ingin bertambah. Dia mau mengambil harta jika harta itu tidak
syubhat  dan halal secara mutlak. Orang seperti ini dinamakan QONAAH, yaitu
menerima dengan senang apa yang ada ditangannya sendiri, apa yang telah dimilikinya.
•    Tidak punya harta lantaran lemah tidak bisa mencarinya, dan seandainya masih mampu
tentu akan dicarinya meskipun dengan bersusah payah. Dia akan sibuk mencarinya.
Orang seperti ini meskipun tidak mempunyai harta, tetapi tergolong orang RAKUS dan
tercela.
•    Harta yang dibutuhkan itu memang  benar-benar sangat dibutuhkan sebagai kebutuhan
pokok, seperti orang yang dalam keadaan lapar dan tidak punya pakaian. Maka mencari
harta dalam keadaan demikian itu, sekalipun sangat ingin bukanlah dinamakan cinta
harta, karena yang tidak dimiliki sangatlah dibutuhkan.

2. Wahai hamba Allah, berhentinya keinginan terhadap apa yang sudah diberikan kepadamu,
dan tidak ada lagi keinginan untuk menambah dari yang sudah ada adalah sifat qonaahmu
yang terpuji.

Ketahuilah bahwa qonaah itu adalah menerima dengan rela apa yang telah ada, memohon
kepada Allah tambahan yang pantas disertai usaha karena mencari keridlaan Allah,
menerima dengan sabar akan takdir Allah, bertawakkal kepada-Nya, dan tidak tertarik oleh
tipu daya dunia.
Yakinlah kamu bahwa qonaah adalah suatu sikap hidup yang harus dimiliki oleh setiap orang
muslim, karena dengan ber-qonaah hati menjadi tenang, bahkan menjadi suatu modal yang
tak pernah habis, dalam situasi dan kondisi apapun.

3. Sikap qonaah adalah suatu sikap yang dituntut oleh orang sufi, karena dengan sikap qonaah
mereka dapat terhindar dari ajakan nafsu terhadap dunia dan kemewahannya, dan keinginan
nafsu kepada dunia ini tidak akan pernah puas, bahkan akan membawa manusia untuk selalu
disibukkan dengan urusan dunia saja, sehingga lupa untuk mempersiapkan kehidupan akherat
dan lupa kepada Tuhannya.
Sifat qonaah adalah suatu sikap yang dapat mendidik manusia untuk bersyukur terhadap
nikmat Allah, dan dengan bersyukur terhadap nikmat Allah itulah akhirnya manusia
memperbanyak beribadah kepada-Nya.

4. Wahai hamba Allah, sesungguhnya agama menyuruh qonaah itu adalah qonaah hati, bukan
qonaah ikhtiar, bukan qonaah usaha dan bukan pula qonaah bekerja. Oleh karena itu sahabat
Rasulullah saw adalah orang-orang yang kaya, melakukan perdagangan keluar negeri, sedang
mereka termasuk orang-orang yang qonaah. Adapun manfaat qonaah adalah amat besar
sewaktu harta itu hilang dengan tiba-tiba.

Wahai hamba Allah, maksud qonaah itu sangat luas. Qonaah menyuruh manusia untuk betul-
betul percaya akan adanya kekuasaan yang melebihi kekuasaan manusia. Qonaah menyuruh
sabar menerima ketentuan Allah jika ketentuan itu tidak menyenangkan, dan menyuruh
bersyukur bila Allah menjamin kenikmatan kepadanya. Dalam hal yang demikian, manusia
masih tetap disuruh berusaha keras, dengan kekuatan tenaga dan harta benda, dikarenakan
selama manusia masih hidup masih diwajibkan berusaha mencari rezeki. Kamu bekerja
bukan berarti meminta tambahan dari yang telah ada dan tidak merasa cukup terhadap apa
yang telah ada di tangan, tetapi kamu bekerja sebab kamu masih hidup dimana orang hidup
itu wajib bekerja. Inilah maksud qonaah.

ZUHUD
?    Sedikit sekali menggemari dunia, sederhana dalam menggunakan segala miliknya,
menerima apa yang ada, serta tidak merisaukan sesuatu yang sudah tidak ada, tetapi giat
bekerja dikarenakan mencari rezeki adalah suatu kewajiban.
?    Pada pandangannya pujian dan celaan orang sama saja. Ia tidak bergembira ketika
mendapat pujian dan tidak susah hati ketika mendapat celaan.
?    Mendahulukan ridlo Allah daripada ridlo manusia, merasa tenang jiwanya hanyalah
bersama Allah Azza wa Jalla, dan berbahagia karena dapat mengerjakan syariat-Nya.

2. Orang zuhud, didalam menyikapi 7 macam kebutuhan manusia adalah :
?    Makanan.
Orang zuhud makan hanya sekedar menahan lapar dan menambah kekuatan tubuhnya
agar dapat melaksanakan ibadah kepada Allah, dan makan tidak sampai berlebih-lebihan.
?    Pakaian.
Orang zuhud memakai pakaian hanya untuk menutupi tubuhnya, untuk menahan diri dari
panas dan dingin, bukan untuk berhias, bukan untuk bermewah-mewahan, serta memakai
pakaian yang sederhana, bukan pakaian yang mahal.
?    Tempat tinggal.
Orang zuhud itu memilih tempat tinggal didaerah yang mudah melakukan ibadah kepada
Allah, membangun rumah sederhana, tidak bermewah-mewahan, dan yang diutamakan
adalah kerajinan dan kebersihan.
?    Perabot rumah tangga.
Orang zuhud, perabot rumahnya adalah sekedar yang diperlukan untuk keperluan setiap
hari, tidak berlebih-lebihan, apalagi untuk perhiasan.
?    Isteri.
Orang zuhud kawin dengan tujuan kebaikan, agar hidup tenang, dapat mengembangkan
keturunan, untuk memelihara kehormatan agar tidak terjatuh kedalam kebinasaan, dan
untuk beribadah kepada Allah dikarenakan memberi nafkah istri termasuk ibadah.
?    Harta kekayaan.
Orang zuhud itu selalu berusaha mencari rezeki, dan setelah memperolehnya
dipergunakan sesuai dengan syariat-Nya, yaitu untuk mengembangkan agama, untuk
membantu orang-orang yang membutuhkan, untuk membangun tempat-tempat ibadah,
dll. Orang zuhud tidak akan menumpuk atau menimbun harta kekayaan karena hatinya
tidak lekat dengan harta kekayaan yang dimilikinya dan tidak untuk bermewah-mewahan.
?    Penghormatan.
Orang zuhud tidak bergembira jika dipuji dan tidak susah jika dicela, karena semua
ibadah dan gerak-geriknya adalah hanya untuk Allah semata.

3. Wahai manusia, sekalipun kamu bersujud kepada Allah selama seribu tahun diatas bara,
kalau hatimu kamu hadapkan ke selain Dia, maka perbuatanmu itu sama sekali tidak
bermanfaat bagi dirimu. Hal itu tiada berpengaruh untuk Dia. Kamu tidak akan memperoleh
keuntungan sebelum kamu lenyapkan segala kebendaan dari hatimu. Mana berguna
menunjukkan zuhud yang disertai hati yang tertuju pada keduniaan.

4. Wahai hamba Allah, jika kamu memandang sesuatu dengan mata hatimu sampai batas
keburukan dunia, tentu kamu mampu mengeluarkan dunia dari hatimu. Tetapi jika kamu
memandang dunia dengan mata kepalamu tentu kamu terpedaya dan tertipu oleh warna-
warni yang menghias keburukannya sehingga kamu pandang indah dan menyenangkan, dan
sudah pasti kamu tidak akan pernah mampu mengusir rasa cinta dunia dari hati dan berzuhud
didunia, padahal dunia itu membunuhmu seperti para pembunuh. Apabila kamu merasa
tenteram, niscaya kamu akan mampu melihat keburukan dunia dan bahkan kamu mampu
menerapkan hidup zuhud didunia. Ketenteramannya adalah kamu mampu menerima bisikan
hati, berkait dengan batin dalam menahan dunia, bersifat qonaah dan menolak dunia.

5. Wahai hamba Allah, selagi dalam hatimu menyimpan rasa cinta dunia, kamu tidak dapat
melihat sesuatupun ihwal orang-orang saleh. Selagi kamu berdusta dan berserikat kepada
manusia, tidak mungkin mata hatimu terbuka. Maka berzuhudlah kamu, jadilah mujtahid,
sibukkanlah dirimu dengan disiplin tobat dan kembalikanlah segala kebutuhanmu kepada-
Nya. Sesungguhnya Allah itu lebih utama daripada yang lain. Jagalah hukum-hukum syarak-
Nya, biasakan bertakwa kepada-Nya.

6. Tiada sesuatu yang dapat menyambung antara hamba dengan Allah kecuali disertai ilmu
zuhud didunia dan berpaling dengan hati memutar jiwa dan nafsu. Orang zuhud itu rela
melepaskan dunia dari hati. Maka berzuhudlah kamu didunia agar nafsumu terkendali, dan
keburukan lenyap berubah menjadi kebaikan.

7. Diantara manusia ada yang menguasai harta dunia tetapi ia tidak mencintainya, ia memiliki
tetapi tidak dikuasai, menyukai tetapi ia tidak mencintai, dunia melayani tetapi ia tidak bisa
dihancurkannya. Bagus sekali hatinya kepada Allah, dunia tidak pernah mampu
mencelakakannya, ia rela mengeluarkan dunia tetapi dunia tak mampu mengeluarkan dirinya.
Demikianlah gambaran hamba Allah yang saleh.

8. Jadikanlah ketenangan dihadapan-Nya melalui zuhud, memutus hubungan syahwat, wanita,
dan segala sesuatu yang ada didalamnya. Maka kamu akan diberi penglihatan dengan mata
yang mulia dan memperoleh bagian tanpa terputus. Tetapi selama kamu masih merasa perlu
terhadap sesuatu disekelilingmu, kamu tetap tidak akan kedatangan sesuatu dari yang tidak
terduga.Seorang ulama berkata : ³Selama mengharapkan sesuatu dihadapanmu, tentu sesuatu yang gaib tidak akan datang kepadamu.´

SABAR
1. Allah memberikan ujian dan cobaan dengan berbagai bentuk :
•    Cobaan jasmani dan rohani yang berupa penyakit, kecelakaan, rasa duka cita dll
•    Cobaan berupa kehilangan harta kekayaan, kebakaran dll
•    Cobaan melalui sanak keluarga yang ditimpa penyakit, kematian dll.

Pada dasarnya semua ujian dan cobaan yang menimpa itu adalah :
?    Disebabkan kedurhakaan terhadap Allah oleh manusia itu sendiri, itu sebagai balasan
untuk menghapuskan dosa kedurhakaannya itu, agar manusia menjadi sadar atas
kedurhakaannya.
?    Takdir Allah untuk menguji hamba-Nya dan kelak di akherat akan diganti dengan rahmat
dan keridlaan-Nya untuk yang sabar  dan tawakkal ketika menerima ujian dan cobaan
tersebut.

2. Wahai hamba Allah, bersabarlah kamu karena dunia seisinya merupakan suatu ujian dan
cobaan. Tiada nikmat kecuali disertai sakit, tiada kelapangan kecuali disertai kesempitan.

3. Terdapat 4 macam kesabaran :
?    Menahan diri dari segala perbuatan jahat, dan dari menuruti dorongan hawa nafsu
angkara murka. Menghindarkan diri dari segala perbuatan yang mungkin dapat
menjerumuskan diri ke jurang kehidupan dan merugikan nama baiknya. Maka ketika
syahwat bergejolak hendak menggoncangkan keyakinan dan keimanan, hanya sabarlah
yang dapat meneguhkan keimanan dengan memaksakan diri supaya berhenti di
perbatasan syarak, dan sabar seperti inilah yang menyelamatkan keimanan kita.
?    Sabar dalam menjalankan suatu kewajiban, yaitu tidak merasa berat atau merasa bosan
dalam menjalankan ibadah. Oleh karena itu, suatu ibadah adalah membutuhkan suatu
kesabaran.
?    Sabar dalam membela kebenaran, melindungi kemaslahatan, menjaga nama baik bagi
dirinya, keluarganya dan bangsanya. Sabar sepert ini adalah berani untuk membela
kebenaran.
?    Sabar terhadap kehidupan dunia, yaitu sabar terhadap tipu daya dunia, tidak terpaut
kepada kenikmatan kehidupan dunia, dan tidak menjadikan kehidupan dunia sebagai
tujuan, melainkan hanya sebagai alat untuk mempersiapkan diri menghadapi kehidupan
yang kekal diakherat nanti.

4. Wahai hamba Allah, ketahuilah bahwa sabar adalah tetap tegaknya dorongan agama
menghadapi dorongan hawa nafsu. Sabar adalah sifat yang membedakan manusia dengan
hewan dalam hal menundukkan hawa nafsu. Sedang dorongan hawa nafsu adalah tuntutan
syahwat dan keinginan yang minta dipenuhi. Jadi sabar adalah suatu kekuatan, daya positip
yang mendorong jiwa untuk melaksanakan kewajiban. Demikian pula sabar merupakan
kekuatan yang menghalangi seseorang untuk melakukan kejahatan.

5. Kebanyakan orang menduga bahwa sabar itu berarti merendahkan diri dan menyerahkan
kepada keadaan, membiarkan diri hanyut dalam situasi dan kondisi, atau menghentikan usaha
tanpa berusaha mencari jalan keluar yang baik, tanpa memperbaiki dan memperkuat amal
perbuatan. Pengertian tersebut tidaklah tepat, sebab yang dimaksudkan dengan sabar adalah
menghadapi cobaan dan ujian dengan cara yang baik, berusaha mencari jalan keluar dengan
cara yang baik pula, dan membiasakan diri melakukan amal perbuatan yang saleh dan usaha
yang terpuji yang disertai dengan doa kepada Allah sambil menjadikan penglamannya itu
suatu dorongan untuk mempunyai kemauan yang keras, keimanan, keyakinan yang istiqomah.

6. Wahai hamba Allah, janganlah kamu lari dari ujian dan cobaan, karena datangnya ujian dan
cobaan yang dibarengi dengan sabar itu sebagai pondasi setiap kebaikan, pondasi kenabian,
kerasulan, kewalian, dan kearifan, juga kecintaan kepada Allah itu ada pada ujian dan cobaan.

Jika kamu tidak sabar atas datangnya ujian dan cobaan yang menimpa kamu, berarti kamu
tidak punya pondasi. Sesungguhnya kamu yang lari dari ujian dan cobaan yang menimpa
kamu, berarti kamu tidak butuh kewalian, makrifat dan dekat dengan Allah. Bersabarlah
kamu sehingga kesabaran itu seiring bersama hatimu, rahasiamu, dan rohmu pada pintu yang
lebih dekat pada Allah Azza wa Jalla.

7. Manusia itu tidak lepas dari beban yang diberikan Allah kepadanya. Maka, kamu harus
mengerti bahwa sabar atas beban, qodlo, dan qodar itu jauh lebih baik dibandingkan isi dunia
dan akherat yang diserahkan kepadamu untuk bertasawuf.

8. Wahai hamba Allah, perbanyaklah sifat diam dan sabar dari orang-orang yang menyakitimu.
Jika mereka berbuat dosa besar yaitu melakukan maksiat kepada Allah, barulah kamu tidak
boleh diam karena hal itu terlarang dan haram bagimu untuk berdiam diri. Disaat itu
menasehati adalah termasuk ibadah sedang membiarkannya adalah suatu kemaksiatan.
Apabila kamu mampu menegakkan amar makruf nahi munkar itu merupakan jalan yang baik
yang telah terbuka dihadapanmu, maka masukilah dengan segera.

9. Wahai hamba Allah, kerjakanlah perintah-Nya dan hentikanlah perbuatan terlarang.
Bersabarlah kamu dalam menerima ujian dengan memperbanyak amalan sunah sehingga
kamu disebut orang sabar yang beramal untuk mencari taufik Allah. Rendahkanlah dirimu
dihadapan-Nya. Hentikan maksiat dari jalur lahir dan membencinya melalui jalur batin.
Peganglah taufik-Nya, dan bersabarlah kamu atas ketentuan-Nya.

10. “Sabar itu adalah bagian dari iman, seperti kepala merupaka bagian dari tubuh.” (Alhadits)

Jika iman tanpa kesabaran bagaikan tubuh tidak berkepala, maka jika tidak sabar terhadap
ujian yang menimpa berarti keimanannya mati, seperti matinya orang yang hilang kepalanya.
Adapun makna sabar adalah tidak mengadu kepada seorangpun ketika mendapat ujian dan
cobaan, tidak tergantung pada kasualita (hukum sebab akibat), tidak membenci cobaan dan
juga tidak merasa gembira akan hilangnya cobaan.

11. Untuk mengetahui sampai dimana kadar cinta kita kepada Allah, maka Allah akan menguji
dimana kita tidak akan lepas dari segala ujian yang menimpa kita baik musibah yang
berhubungan dengan diri kita sendiri, maupun yang menimpa pada sekelompok manusia atau
bangsa. Terhadap semua ujian itu, hanya sabarlah yang memancarkan sinar yang memelihara
seorang muslim dari jatuh kepada kebinasaan, memberikan hidayah yang menjaga dari rasa
putus asa.

Sebagai orang muslim wajib meneguhkan hatinya dalam menanggung segala ujian dan
penderitaan dengan tenang. Demikian juga dalam menunggu hasil pekerjaan, kita hadapi
dengan ketabahan dan sabar serta tawakkal.

12. Apabila seseorang menghadapi cobaan atau penderitaan itu dengan ridlo, ikhlas dan mencari
jalan keluar dengan cara yang sebaik-baiknya, tidak mengeluh, tidak mengadu, apalagi
merintih, maka Allah pasti akan memudahkan baginya urusan hisabnya. Allah akan
menyegerakan pahalanya, memberkati kehidupannya sehingga timbangan amalnya tidak
diberati dengan kejahatan tetapi diberati dengan ketaatan dan pahala. Jadi, apabila manusia
itu menghadapi ujian dengan sabar, maka ia termasuk lulus dari ujian itu. Tetapi apabila
menghadapi ujian dengan tidak sabar, maka ia tergolong manusia yang tidak berhasil, dan
putus asa itu bukanlah sifat orang mukmin.

13. Orang-orang yang mencintai Allah tentu rela atas ketentuan-Nya, bukan kepada yang lain-
Nya. Mereka selalu memohon pertolongan dari-Nya dan mempersempit selain Dia. Pahitnya
dan susahnya kefakiran sebagai kemanisan baginya, tanpa mengurangi arti rela kepada-Nya,
dan merasa senang dan nikmat bila bersama-Nya. Kayanya dalam kefakirannya, nikmatnya
dalam kesakitannya, kejinakannya dalam ketakutannya, dan dekatnya dalam jauhnya.
Alangkah senang bagimu wahai orang-orang yang sabar, orang-orang yang rela, orang-orang
yang memadamkan nafsu dan hawanya.

SYUKUR
1. Barangsiapa yang tidak bersyukur dengan segala nikmat Allah, maka hal tersebut
menunjukkan telah hilangnya nikmat-nikmat itu. Dan barangsiapa yang bersyukur dengan
nikmat itu, maka ia telah mengikatnya dengan tali nikmat tersebut.

2. Dengarlah wejangan ulama : ³Jadilah kamu didunia ini seperti orang yang membalut
lukanya, yaitu sabar atas pahitnya obat, dan penuh harap atas lenyapnya cobaan´. Setiap
cobaan dan sakit pasti berhubungan dengan mahluk. Juga penglihatan mereka pada sengsara,
manfaat, pemberian, dan penolakan. Oleh karena itu, obat dan lenyapnya cobaan itu terletak
pada ketidak adaan mahluk dari hatimu dan tanggapanmu tatkala ketentuan Allah datang padamu.

3. Allah Azza wa Jalla telah memberikan berbagai macam nikmat kepada umat manusia berupa
hidayah dan berupa rezeki. Nikmat Allah yang paling besar adalah nikmat berupa hidayah,
petunjuk kepada kebenaran, nikmat iman dan islam. Dengan hidayah ini manusia akan dapat
mensyukuri semua nikmat yang telah Allah berikan kepadanya sehingga adanya nikmat yang
berupa rezeki akan selalu disyukuri, dipergunakan untuk menolong orang-orang fakir, untuk
berjuang dijalan Allah. Sebaliknya jika manusia menelantarkan nikmat hidayah yang telah
diberikan kepadanya, maka nikmat rezeki yang diberikan kepadanya itu bagaikan siksa bagi
dirinya dikarenakan dengan adanya rezeki itu bukan menambah taatnya kepada Allah, justru
menambah jauh dari Allah.

4.    “Iman itu ada dua bagian, sebagian berisi sabar dan sebagian berisi syukur.”(Alhadits)
Apabila kamu tidak sabar tatkala tertimpa suatu penyakit dan musibah, dan juga tidak
bersyukur tatkala memperoleh kenikmatan, berarti kamu bukan seorang mukmin sejati.
Diantara kebenaran islam seseorang adalah terletak dalam kepasrahan jiwanya.

HATI
1. Wahai hamba Allah, apabila kamu lebih mengutamakan mahluk daripada Pencipta mahluk,
maka sebenarnya kamu itu dalam kesakitan, dalam kebinasaan, dan sampai kapan
perilakumu itu kamu tunjukkan dihadapan Allah Al-Hak, dan sampai kapan lagi kamu sadar
dari keingkaranmu itu ?

Sampai kapan lagi kamu menghidupkan dunia dan mematikan akherat ? Sesungguhnya setiap
manusia itu cuma berhati satu, maka tidak akan bisa mencintai dunia dan akherat dalam satu
waktu. Kalau hatimu cinta dunia kamu akan melupakan akherat dan jika kamu mencintai
akherat, maka dunia akan kamu lupakan dan tidak kamu cintai. Oleh sebab itu, cintailah
kehidupan yang lebih kekal diantara keduanya. Ingat, kehidupan dunia ini sangat terbatas,
singkat sekali bagimu, lalu dunia akan kamu tinggalkan begitu saja.

Hati manusia itu satu, tidak mungkin bisa berdzikir kepada Pencipta dan yang diciptakan
dalam satu waktu. Kalau hatimu telah kamu isi dengan dzikir kepada Allah, maka yang
selain-Nya akan kamu lupakan, tetapi jika kamu berdzikir (ingat) selain Allah, maka Allah
akan kamu lupakan. Kalau kamu mengaku mencintai dunia dan akherat, dan jika kamu
mengaku ingat Pencipta dan yang diciptakan, semua itu adalah pengakuan dusta semata.

2. Wahai hamba Allah, bila kamu cinta Allah atau mencintai yang lain, janganlah kamu satukan
dalam satu hati dikarenakan kamu tidak mungkin akan mampu, dikarenakan kalau kamu
telah mencintai dunia berarti kamu tidak cinta kepada Allah Azza wa Jalla.
“Allah sekali-kali tidak menjadikan bagi seseorang dua buah hati dalam rongganya.” (Al-
Quran, Al-Ahzab 4)

Dunia dan akherat tidak dapat dipadukan. Pencipta dan yang diciptakan tidak dapat
disatukan. Tinggalkanlah sesuatu yang fana (yang dapat sirna) sehingga memperoleh sesuatu
yang tidak fana (kekal). Relakan dirimu dan hartamu hingga kamu memperoleh surga-Nya.

3. Ketahuilah bahwa mahluk dan Pencipta tidak bisa disatukan, dunia dan akherat dalam hati
tidak dapat dipadukan, tidak bisa dilukiskan, tidak bisa dibenarkan. Tetapi keberadaan
mahluk dapat dilukiskan dalam lahir jiwamu, dan Pencipta terlukis melalui batin. Dunia
ditangan dan akherat dalam hatimu, dimana jika sudah dihati janganlah kamu satukan.

4. Lihatlah dirimu dan pilihlah untuk-Nya. Jika kamu menghendaki dunia, keluarkan akherat
dari hati, dan jika menghendaki akherat maka bebaskanlah dunia dari hati. Jika kamu ingin
dekat dengan Allah, maka bebaskanlah hatimu dari dunia dan akherat. Selama dalam hatimu
terdapat sesuatu selain Allah maka kamu tidak akan bisa melihat kedatangan-Nya, dan tidak
bisa menyatakan berjinak dan berdiam untuk-Nya. Selama dalam hatimu gandrung dunia, tak
akan dapat melihat akherat, dan selama dalam hatinya masih terdapat akherat, maka tidak
dapat menyaksikan Tuhan. Janganlah kamu mendekati pintu-Nya kecuali dengan hati yang
murni, agar usahamu tidak sia-sia.

5.    “Sesungguhnya hati itu berkarat, dan sesungguhnya penjernihannya adalah dengan
membaca Al-Quran, ingat mati, dan mendatangi majlis dzikir.” (Alhadits)
Hati itu berkarat, kotor, dan gelap dimana untuk menjernihkan hati adalah dengan
memperbanyak membaca Al-Quran, mengingat mati, dan mendatangi majlis dzikir, yaitu
suatu pertemuan untuk mengingat Allah dan dzikir kepada-Nya. Jika tidak mau
memperbanyak membaca Al-Quran, mengingat mati, dan mendatangi majlis dzikir, maka
hati menjadi gelap, gelap karena jauhnya dari cahaya kebenaran, karena cintanya kepada
dunia dan kehidupannya yang tidak disertai sifat warak. Siapa saja yang hatinya ditempati
rasa cinta dunia maka lenyaplah sifat waraknya, yang tinggal hanyalah gabungan halal dan
haram. Ini berakibat lenyapnya rasa malu kepada Tuhan dan enggan mendekatkan diri
kepada-Nya.

Wahai hamba Allah, terimalah apa yang disampaikan Nabimu, lenyapkan karat dihatimu
dengan obatnya, sebagaimana telah dijelaskan kepadamu. Seandainya kamu sakit dan dokter
menunjukkan obat-obatnya, tentu tidak akan tercapai ketenteraman hidup sebelum kamu
melaksanakan perintah dokter itu.

6. Wahai orang yang mensucikan diri, terapkanlah kesucianmu dalam batin, dalam hati,
kemudian dalam jiwa dan dalam tubuhmu. Petunjuk zuhud itu datang dari sana, bukan dari
lahir ke batin. Apabila batin telah jernih, maka kejernihan itu berputar menuju hati, jiwa,
anggota tubuh, makanan, minuman, dan ke seluruh tingkah laku.

7. Allah pencipta penyakit dan obat. Durhaka itu penyakit dan taat itu sebagai obat, aniaya itu
penyakit dan adil itu obatnya, salah itu penyakit dan benar itu obatnya, menentang Allah itu
adalah penyakit dan tobat atas dosa itu adalah obatnya. Obatmu akan sempurna jika mahluk
kamu pisahkan dari hatimu, lalu kamu jalin hubungan yang erat dengan Allah.

8. Kamu tidak akan dapat mencapai Allah selama kamu masih membawa najis, lahirmu tidak
dapat masuk kedalam kekuasaan-Nya bersama benda-benda najis yang tersimpan dalam
batinmu. Suatu amalan tidak akan kamu peroleh sebelum terenung dalam jiwa yang bersih,
dan pada gilirannya memasukkan dirimu dalam kerajaan-Nya.

9. Wahai hamba Allah, gerakan lisan tanpa dibarengi dengan amalan hati tidak akan mampu
mengajakmu sampai kepada Allah Azza wa Jalla. Perjalanan itu hanyalah perjalanan hati,
kedekatan itu hanyalah kedekatan hati, amalan itu hanyalah amalan yang berfungsi, menjaga
hukum syariat itu melalui anggota tubuhmu dan berendah diri untuk beribadah. Barangsiapa
yang menjadikan lidahnya sebagai tolok ukur, maka ia tidak punya ukuran. Barangsiapa
menampakkan amal kepada manusia, maka tiada amal baginya. Usahakan beramal dengan
sembunyi, jangan kamu tampakkan secara terang-terangan kecuali amalan wajib.

10. Wahai hamba Allah, semua obat terletak dalam penyerahan diri dihadapan Allah, memutus
kausalitas (hukum sebab akibat) dan mengosongkan diri dari tuhan-tuhan selain Allah Yang
Hak. Tetapi yang manjur terletak dalam peng-Esaan Allah menurut hati bukan menurut
ucapan. Tauhid terletak dalam hati, zuhud dihati, makrifat dihati, takwa dihati, pengetahuan
tentang Allah dihati, cinta Allah dalam hati, dan dekat dengan Allah juga dalam hati bukan

pada lisan. Sekalipun lisanmu mengucapkan atau berdzikir beribukali dalam sehari, tetapi
jika dalam hatimu terbang kemana-mana, ingat harta benda dunia, ingat mahluk yang hina,
maka ucapanmu itu seperti orang yang kesurupan, yang berbicara seenaknya tanpa dihayati
makna yang terkandung didalamnya.

11. Wahai hamba Allah, kehendakmu kepada Allah itu tidak benar kecuali semata-mata hanya
kamu tujukan kepada-Nya. Setiap orang yang hendak menuju Allah tetapi masih dibarengi
dengan menuju kepada orang lain, maka sia-sialah semua usahanya itu. Hendak menuju
kepada Allah itu harus murni, harus berhati suci dan bebas dari yang selain Allah, dan kalau
tidak maka usaha itu dinamakan ria, syirik, mempersekutukan Allah dengan benda lain.
Amal seperti ini adalah lebih mengutamakan dunia daripada akherat, dan siapa yang lebih
mengutamakan dunia daripada akherat, maka orang itu termasuk orang yang merugi, rugi
didunia karena hatinya tidak tenang, hatinya selalu gundah karena keinginannya tidak pernah
sepenuhnya terpenuhi, dan rugi di akherat karena disana nanti akan memperoleh imbalan
siksa yang menghinakan.

12. Wahai hamba Allah, beramallah kamu dengan anggota tubuhmu dan hadapkanlah hatimu
kepada-Nya semata. Amalanmu adalah untuk dirimu sendiri dan untuk persiapanmu
menghadapi pertemuanmu dengan Tuhanmu nanti, maka dalam beramal hadapkan hatimu
kepada-Nya, bukan kepada yang selain Dia. Ilmu lahir menjadi penerang lahir sedang ilmu
batin menjadi penerang batin. Ilmu sebagai penerang antara kamu dengan Tuhanmu. Kalau
kamu beramal menurut ilmu yang kamu miliki tentu memperdekat jalanmu kepada Allah Al-
Haq, memperlebar pintu antara kamu dan Tuhanmu.

13. Wahai hamba Allah, cintamu terhadap sesuatu selain Allah itu adalah cinta yang semu, cinta
yang mudah lenyap, dikarenakan cinta sejati adalah cintanya seorang hamba kepada
Tuhannya. Kalau kamu mencintai mahluk, maka cintamu itu sangat terbatas, mudah lenyap,
bahkan mudah sekali berubah menjadi suatu kebencian, menjadi musuh bagimu. Tetapi
cintamu kepada Allah adalah cinta hakiki, perasaan cinta yang kekal abadi, yang membawa
tenangnya hatimu bersama-Nya dalam setiap saat dan waktu, bahkan disaat-saat akhir
hayatmu pun perasaan cinta dan perasaan tenang itu akan selalu menyelimutimu. Tetapi aneh
sekali karena kamu lebih suka melupakan Allah daripada melupakan ciptaan-Nya.

Wahai hamba Allah, cinta orang-orang yang benar kepada Allah itu adalah cinta yang tak
tergoyahkan oleh apapun, karena cintanya keluar dari mata hati. Cinta mereka bukan sekedar
iman bahkan disertai yakin. Kalau mata terbuka dari tabir penutup mata hati, maka
merekapun mampu menembus apa yang ada dalam gaib maupun melihat sesuatu yang tidak
mungkin mampu disingkap oleh orang lain.

14. Wahai hamba Allah, jika tobatmu murni, imanmu pun suci. Menurut ahli sunnah, iman itu
bertambah dan berkurang, bertambah karena ketaatan dan berkurang karena melakukan
maksiat. Demikianlah hak dan kewajiban manusia yang harus diperhatikan. Tetapi untuk
orang-orang pilihan, iman mereka selalu bertambah karena lenyapnya mahluk dari mereka.
Bertambah karena ketenteraman mereka bersama Allah dan berkurang karena ketenteraman
mereka bersama selain Allah.

15. Sesungguhnya kebahagiaan hati tidak bisa diperoleh kecuali setelah ada pembatas nafsu.
Apabila kamu sanggup mencegah tentu pintu kebahagiaan terbuka untukmu. Sehingga bila
hati berkarya, kebahagiaan segera datang dari Allah, rahmat datang pada jiwa.

MUKMIN
1. Wahai hamba Allah, hendaklah kamu malu kepada Allah dengan malu yang sebenar-
benarnya. Janganlah kamu lalaikan waktumu dengan sia-sia. Kamu disibukkan dengan
urusan mengumpulkan harta, berangan-angan terhadap yang tidak akan kamu temukan dan
membangun sesuatu yang tidak kamu tempati, maka yang demikian itu menjadi penghalang
dirimu dari maqam Tuhanmu.

Duduklah berdiam diri sambil mengingat Allah dalam hati, itu adalah perbuatan orang-orang
arif, perbuatan orang-orang siddiq, yang tempat tinggalnya dalam surga. Maka jadilah kamu
manusia yang ridlo atas ketentuan-Nya dan mendekatkan hati kepada-Nya, bermunajat dan
menyingkap tabir penghalang antara dirimu dengan Allah. Jika demikian, jadilah
persahabatan hati ini dalam kesunyiannya bersama Dia Yang Hak.

2. Wahai hamba Allah, orang mukmin itu selalu beramal untuk dunia dan akheratnya. Beramal
untuk dunia menyampaikannya menurut kehendak yang dibutuhkan disana. Terimalah dunia
sebagai bekal penumpang, jangan sampai menariknya sesuka hatimu. Orang jahil itu setiap
kehendaknya tertuju pada dunia, sedangkan orang arif setiap geraknya untuk akherat lalu
menuju Tuhan. Apabila kamu ambil kesenangan dunia sampai membumbung mencapai taraf
nafsu sahwat, maka perhatikan sebentar : Siapakah Penguasa yang mampu mencerai-
beraikan segala sesuatu ? Karena hal itu tidak menguntungkan kamu, maka lawanlah
keinginan nafsumu untuk menguasai dunia dan didiklah nafsumu disisi Allah Yang Hak.

3. Orang mukmin hidup didunia ini mencari bekal untuk akherat, tetapi orang kafir hanya
bersenang-senang didalamnya. Orang mukmin selalu berbekal, karena mereka berada pada
jalan qonaah, mereka selalu merasa cukup terhadap apa yang telah ada ditangannya, dan
selalu mempermudah lepasnya harta, karena lebih banyak dicurahkan untuk kepentingan
akherat, untuk bekal menghadapi hari kiamat nanti. Apapun usahanya didunia ini
dipersiapkan untuk dirinya, dijadikan bekal untuk dirinya sesuai dengan kemampuannya.
Semua kekayaannya dipersiapkan untuk kehidupan akherat.

4. Wahai hamba Allah, apabila kamu memelihara iman, menyuburkan batangnya, tentu
diperkaya Allah untuk dirimu sendiri dari segala mahluk. Allah menghias jiwa, hati, dan
batinmu lalu menempatkan kamu pada pintu-Nya, memperkaya fikirmu dengan ingat, dekat,
dan berjinak bersama-Nya. Ketika itu kamu tidak peduli lagi terhadap orang yang bersimbah
dunia atau disibukkan oleh keduniaan, juga tidak memperdulikan orang-orang yang haus
menguasai dunia.

5. Orang beriman itu adalah orang yang belajar sesuatu yang diwajibkan kepadanya, lalu selalu
beribadah kepada Allah. Ia mengenal Allah lalu mencintai-Nya, mencari dan melayani-Nya.
Ia juga tahu bahwa bahaya, manfaat, baik atau buruk itu bukan datang dari mahluk, dan
apapun yang menimpa mahluk itu adalah dari Allah Azza wa Jalla. Orang yang menuju
kepada Allah itu lebih tenang daripada orang yang menuju kepada mahluk, sebab mahluk itu
beraneka macam, sedangkan Allah hanya satu. Maka orang yang menghadapi berbagai
macam masalah, hatinya tidak akan tenteram, dan ketenteraman hati itu tercapai jikan hanya
tertuju kepada Allah semata.

6. Wahai hamba Allah, orang muslim adalah orang yang selalu bersyukur atas nikmat dan
ketentuan-Nya, mereka selalu mengingat Allah melalui lisan lalu mengalir ke hati. Jika
mereka tertimpa penyakit, tampak diwajah mereka tersungging senyuman. Bagi mereka
dunia tidak lebih bagai bangkai, tidak berdaya, pesakit, fakir, dan sorga maupun neraka bagi
mereka tidaklah punya makna. Mereka tidak merasa fakir, mereka beramal bukan untuk
memperoleh kenikmatan dalam surga, dan juga bukan karena takut siksa neraka. Tetapi
semua yang dilakukan itu hanyalah semata-mata untuk mengagungkan dan dzikir kepada-
Nya, mendekat dan mengabdi kepada-Nya sebagai tugas setiap mahluk kepada penciptanya.
Maka setiap kecenderungan dan keberadaan mereka selalu terjalin dengan Allah, sehingga
terjadi hubungan yang erat dengan Allah.

7. Wahai hamba Allah, orang yang takut kepada Allah itu hanyalah orang yang berilmu.
Mereka adalah golongan orang-orang yang ketika bekerja adalah dengan ilmu, beramal dan
memahami apa yang diamalkan, mereka tidak mencari balasan dari Allah Yang Hak terhadap
apa yang dikerjakan, kecuali mereka hanya mengharap ridlo Allah dan bisa dekat dengan
Allah. Mereka menghendaki kecintaan, ikhlas, dan terbuka hijab yang mendindinginya.
Mereka menghendaki agar pintu-Nya tidak tertutup dihadapannya, dunia dan akherat.
Mereka tidak terlalu cinta hidup didunia juga diakherat, dan yang lain selain Allah. Dunia
untuk manusia, akherat untuk manusia, sedangkan Allah Al-Haq untuk orang beriman
semata, untuk orang-orang yang bertakwa dan untuk orang-orang arif yang selalu mencintai-
Nya, yakin dan khusuk di hadapan-Nya.

8. Sabda Nabi : “Perumpamaan orang mukmin yang membaca Al-Quran bagaikan buah jeruk,
harum baunya dan lezat rasanya. Adapun perumpamaan orang mukmin yang tidak membaca
Al-Quran bagaikan buah kurma, tidak berbau tetapi manis rasanya.” (Alhadits ± Khamsah)

9. Wahai hamba Allah, sangat beruntung orang yang mengenal Allah Azza wa Jalla, dengan
kenikmatan-Nya dan menyandarkan semua urusannya kepada-Nya, membersihkan jiwanya
dari sebab-sebab, daya, dan kekuatannya. Orang berakal tidak memperhitungkan amalnya
untuk Allah, tidak mencari pahala atas perbuatan baiknya.

10. Marah jika dilandasi karena Allah adalah marah terpuji, tetapi jika karena terdorong oleh
yang lain berarti suatu marah yang tercela.

Orang mukmin itu marah karena Allah , bukan karena diri sendiri. Ia marah karena untuk
menolong agamanya, bukan untuk menolong diri sendiri. Ia mudah geram jika hukum-
hukum Allah dipermainkan, seperti kegeraman singa tatkala menerkam buruannya.

11. Wahai hamba Allah, apabila Islam tidak terdapat didalam jiwamu maka bagaimana iman bisa
tumbuh dalam jiwamu. Jika keimanan itu tidak terdapat dalam jiwamu berarti kamu tidak
punya keyakinan. Jika keyakinan tidak kamu miliki berarti kamu tidak punya kebaikan.
Inilah derajad yang tumbuh dalam jiwa. Jika Islammu murni maka murni pula
penyerahanmu. Jadilah kamu orang yang menyerahkan diri kepada Allah meliputi
keberadaanmu, beserta memelihara hukum syarak. Serahkan jiwamu menurut kewajibannya,
perbaikilah adab bersama-Nya dan mahluk-Nya. Janganlah kamu menganiaya dirimu sendiri
atau orang lain, karena perbuatan aniaya itu menggelapkan hati, menggelapkan muka dan
catatan amal. Janganlah kamu menganiaya atau menolong orang yang menganiaya.

12. Wahai orang yang berakal, bahwa kamu tak henti-hentinya membenci orang-orang miskin
padahal kamu mengharap ridlo Allah. Maka tidak mungkin keridloan-Nya diberikan
kepadamu sebelum kamu menyukai orang-orang miskin dan menyukai kemiskinan. Dan jika
kamu membenci orang-orang miskin dan membenci kemiskinan tentu kamu akan
memperoleh kemurkaan-Nya.

13. Manusia yang hatinya tenang dan menjalankan perintah-Nya dengan istiqomah, maka
menyerupai malaikat bahkan mereka diberi tambahan berupa manzilah-manzilah. Mereka
dibekali dengan makrifat dan berilmu tentang Dia, sedang para malaikat menjadi pembantu
dan pengikut mereka untuk menyerap kegunaan mereka, karena berbagai hikmah telah
dituangkan dalam hati mereka. Maka, jika kamu ingin berpagut dengan manzilah-manzilah
mereka hendaklah kamu jaga kebenaran Islam, setelah itu tinggalkan perbuatan dosa, baik
dosa lahir maupun batin, lalu bersikap warak, menerapkan zuhud didunia, baik terhadap yang
diperbolehkan atau yang dihalalkan, memperkaya diri dengan keutamaan Allah, berzuhud
dalam kefadhilahan-Nya, dan memperkaya diri dengan mendekati Allah. Apabila rasa
memperkaya diri telah nyata secara bersih niscaya keutamaan-Nya dicurahkan kepadamu,
dan pintu-pintu pembagian-Nya terbuka untukmu meliputi pintu kelembutan, rahmat, dan
pertolongan-Nya.

TAUHID
1.    “Barangsiapa dibukakan pintu kebajikan baginya, maka hendaklah dia mencapai peluang
itu, karena tidak diketahui kapan pintu itu ditutup baginya”. (Alhadits)

Wahai manusia, capailah dan peliharalah pintu hidup selagi masih terbuka. Mungkin dalam
waktu dekat ini akan tertutup kembali dengan tercabutnya rohmu dari kerongkonganmu.
Peliharalah tingkah lakumu yang baik selagi kamu masih mampu melakukannya. Peliharalah
pintu tobat, masuklah ke lorong-lorongnya selagi masih terbuka untukmu. Peliharalah pintu
dosa karena pintu itu selalu terbuka untukmu, dan peliharalah pintu ke temanmu yang baik,
sesungguhnya pintu itu masih terbuka untukmu.

Wahai hamba Allah, bangunlah dirimu dari sesuatu yang menggoncangkanmu, sucikanlah
dirimu dari sesuatu yang mengotorimu, perbaikilah dirimu dari sesuatu yang merusakmu,
jernihkan dirimun dari keruh kotormu, tahanlah dirimu dari kesenangan dunia yang kamu
ambil, kembalilah kepada Tuhanmu yang kamu jadikan tempat pelarianmu.

Wahai hamba Allah, disana tiada apapun kecuali Zat Pencipta Azza wa Jalla. Maka, apabila
kamu telah merasa berada bersama Allah, berarti kamu hamba-Nya. Dan jika kamu merasa
berada bersama mahluk, maka berarti kamu menjadi budak mereka. Bila kamu mengetahui
bahwa pemisahan terhadap Allah Yang Hak itu menjadi pemisah setiap perwujudan yang
kamu yakini, maka sesungguhnya segala sesuatu dari mahluk itu adalah sebagai penghalang
antara dirimu dengan Allah.

2. Kebaikan itu tergantung dari pemberian-Nya, sedang keburukan terletak karena
mengingkari-Nya. Jika kamu berusaha karena Allah semata, maka kamu akan dekat dengan
Allah, dan Allah melihatmu sebagai balasan untukmu.

Wahai hamba Allah, janganlah kamu mencari ganti dalam bentuk hitungan. Carilah pemberi
nikmat kepadamu, janganlah mencari nikmat. Jika kamu mencari nikmat, maka nikmat itu
tidak akan kamu temukan selamanya, sebaliknya jika kamu mencari Pemberi nikmat, maka
itulah suatu kenikmatan.

3. Wahai hamba Allah, selamatkanlah jiwamu dari dunia dan akherat, dan bebaskanlah jiwamu
dari selain Allah, niscaya rahmat akan berdatangan dari berbagai arah. Peliharalah Tuhanmu
dari berbagai penjuru jiwamu, tentu kamu akan selamat dari tipu daya iblis dan hawa nafsu.
Sehingga :
“Sesungguhnya hamba-hamba-Ku, tidak ada kekuasaan bagimu terhadap mereka”. (Al-
Quran, al-Hijr : 42)

4. Wahai hamba Allah, dimanakah kamu letakkan rasa penghambaanmu kepada Allah Yang
Hak ? Bawalah kemari rupa penghambaanmu yang benar, dan genggamlah rasa kecukupan
dalam segala urusanmu. Kamu adalah hamba yang lari dari Tuhanmu. Kembalilah kepada-
Nya, serahkanlah jiwa ragamu untuk Dia dan rendahkanlah dirimu dibawah perintah-Nya
tanpa tawaran, terhadap larangan-Nya dengan menghentikan, terhadap ketentuan-Nya
dengan sabar dan menerima. Bila hal ini telah kamu sempurnakan dalam jiwamu, maka
sempurnalah penghambaanmu, lalu datanglah kecukupan untukmu dari Allah Azza wa Jalla.

5. Wahai hamba Allah, kamu diciptakan oleh Allah bukan untuk membuat kekacauan, bukan
sekedar untuk permainan, bukan sekedar untuk makan, minum, tidur dan kawin. Ingatlah
bahwa hatimu melangkah menuju Allah satu langkah, maka cinta-Nya melangkah menuju
kamu beberapa langkah.

6. Wahai hamba Allah, apabila kamu bersedia melayani-Nya kamupun akan dilayani-Nya, jika
kamu berhenti Dia pun akan berhenti. Maka layanilah AllahYang Hak, janganlah kamu sibuk
mengurusi harta benda dunia lalu meninggalkan-Nya, atau karena kamu melayani pemimpin
yang tidak bisa membawa mudharat dan manfaat. Mana bisa mereka memberimu ? Apakah
mereka itu mampu memberimu apa yang tidak dibagi untukmu, atau menentukan pembagian
sesuatu yang tidak dibagikan oleh Allah kepada kamu ? Tak ada yang perlu diistimewakan
untuk mereka. Apabila kamu berpendapat bahwa pemberian mereka itu mendahului
ketentuan-Nya, maka kafirlah kamu. Bukankah telah diketahui bahwa mereka itu bukan
pemberi, bukan penolak, bukan pencelaka, bukan yang Qadim, dan bukan Yang Akhir
kecuali hanya Allah Yang Hak. Jika kamu berkata bahwa kamu mengetahui hal itu, maka
³Bagaimana kamu tahu sedangkan kamu mendahulukan selain Dia ?´

7. Wahai manusia, barangsiapa yang meninggalkan pintu Allah Yang Hak, tentu menuju pintu
manusia. Barangsiapa yang menyia-nyiakan jalan Allah dan naungan-Nya, tentu tunduk
dijalan mahluk dan berlindung disana. Barangsiapa yang dikehendaki oleh Allah
kebaikannya, tentu pintu-pintu yang menuju mahluk ditutup bagi dirinya, pemberian mereka
diputus untuknya, sehingga semua yang dari mahluk itu tidak berguna bagi dirinya.

8. Wahai hamba Allah, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah dan janganlah kamu
selalu mengerjakan perbuatan maksiat yang menyebabkan dosa besar, sucikan busana
agamamu dari najis dengan air tobat, tetap bersama-Nya dan ikhlas disamping-Nya.
Ketahuilah bahwa semua yang terjadi pada dirimu (yang bukan penyakit yang menimpa
dirimu), semua itu datangnya dari Allah. Karena itu kembalilah kepada Allah dengan
sepenuh hati.

9. Wahai hamba Allah, peliharalah ikhlas dalam beramal, luruskan pandanganmu dan
perhatikan amalmu. Beramallah kamu karena Allah, jangan karena nikmat-Nya. Jadilah
kamu seperti orang yang mencari ridlo-Nya semata. Carilah keridlaan-Nya sampai Dia
memberimu. Apabila Allah memberimu berarti kenikmatan dunia dan akherat kamu peroleh.
Di dunia bisa dekat dengan Allah, diakherat bisa melihat Allah dan memperoleh balasan
sebagaimana yang Dia janjikan. Didunia kamu dapat mengenal-Nya melalui mata hatimu,
sehingga jiwamu tenang, aman, sejuk, tidak susah, dan merasa cukup terhadap ketentuan-
Nya yang ada padamu. Dan diakherat kamu dapat melihat melalui mata kepalamu.

10. Wahai hamba Allah, yang dinamakan takut kepada Allah itu bukanlah takut kepada siksa-
siksa-Nya, tetapi takut kepada Allah adalah merasa bahwa Allah selalu mengawasi segala
perbuatan baik dan buruk, sehingga seseorang tidak berani dan takut melakukan kemaksiatan
lalu tunduk dan patuh terhadap syariat-Nya.
11. Wahai hamba Allah, makanlah dan minumlah dengan makanan dan minuman yang diridloi
Allah, dan perangilah hawa nafsumu jangan sampai kamu hanyut terbawa oleh kemauan
hawa nafsu. Ketahuilah bahwa dilangit dan dibumi tiada penguasa selain Allah Azza wa
Jalla. Tiada Tuhan dan tiada penenang kecuali hanya Dia, tiada penentu atau pemutus kecuali
Dia, tiada penguasa atau penakluk kecuali hanya Dia, dan tiada yang perkasa selain Dia.
Maka ketahuilah melalui mata hatimu dan batinmu bahwa Allah Azza wa Jalla adalah satu-
satunya tempat harapanmu, bukan kepada yang lain.

12. Sesungguhnya cobaan itu banyak tetapi penangkalnya hanya satu demikian juga penyakit itu
banyak tetapi penyembuhnya cuma satu, yaitu Allah Ta¶ala.

Wahai orang yang terkena penyakit jiwa, serahkanlah jiwamu kepada dokter, dan kamu tak
perlu berduka cita atas sesuatu yang dikehendaki padamu karena Allah lebih penyantun
kepadamu daripada dirimu sendiri. Jagalah dirimu dihadapan-Nya dan janganlah kamu
membelakangi-Nya, karena kamu dapat melihat segala kebaikan dunia dan akherat hanya
dari Dia semata.

13. Cinta kepada Allah menurut Imam Al-Ghazali adalah sebagai hasil dari makrifatullah. Oleh
karena itu beliau berkata : ³Ketahuilah bahwa tajalli (memperoleh kenyataan) keagungan
Allah membawa manusia khauf (takut) kepada Allah, tajalli kecantikan dan keindahan Allah
membawa manusia kepada rindu, tajalli sifat Allah membawa manusia kepada cinta, tajalli
Zat Allah membawa manusia kepada tauhid.´

14. Sesungguhnya kamu diciptakan hanyalah untuk menyembah Dia, karena itu jangan
mempermainkan. Jalinlah hubungan dengan-Nya, jangan mempersibuk diri dengan yang
lain, jangan mencintai-Nya merangkap mahluk. Jika kamu mencintai yang lain, cintailah atas
dasar kasih sayang dan kelembutan. Kalau itu yang kamu kehendaki, tidaklah mengapa.
Tetapi jika cintamu ke yang lain berdasar lubuk hati, janganlah kamu lakukan karena
termasuk cinta batin, dan yang demikian itu tidak diperbolehkan.

15. Apabila pertolongan itu telah sempurna atasmu, maka datanglah dunia dan akherat menjadi
pelayanmu tanpa paksa. Lintasilah pintu Tuhanmu dan tetaplah disana. Jika kamu tetap diam
tak bergeming dari pintu itu, maka Allah Yang Hak berhubungan dengan jiwamu sehingga
kamu dapat melihat lintasan-lintasan hawa, nafsu, lintasan hati, dan lintasan iblis. Dikatakan
untukmu : ³Inilah lintasan yang benar, dan inilah lintasan yang batil´.

Ketahuilah dari setiap bentuk ini menyimpan tanda yang bisa kamu kenali. Bila kamu telah
sampai pada maqam ini, niscaya lintasan Al-Haq  datang padamu, mendidikmu, menetapkan,
mendudukkan, menggerakkan, menempatkan, memerintah, dan menegakkan kamu.

Wahai hamba Allah, janganlah kamu mencari penambah dan pengurang, karena setiap
kepastian itu telah meliputi setiap individu. Tidak seorangpun diantara kamu kecuali baginya
punya manuskrip dan biografi penghitung.

RENUNGAN
1. Berilah pendidikan yang baik kepada orang yang kamu kuasai urusannya dan pendidikannya,
dan orang yang wajib kamu perhatikan. Sabda Nabi : ³Janganlah kamu angkat tongkatmu
kepada keluargamu, melainkan takut-takutilah mereka kepada Allah.´

2.    “Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah ia berbicara yang baik
atau diam.” (Alhadits)
Janganlah kamu berbicara berlebih-lebihan karena bahayanya banyak bicara adalah
kedustaan. Orang yang banyak bicaranya itu banyak pula dustanya.

3. Wahai hamba Allah, hormatilah orang yang mencintaimu serta balaslah kecintaannya dengan
mencintainya pula. Janganlah kamu marah bukan karena Allah dan janganlah kamu
memerintahkan orang untuk melakukan kebaikan kecuali kamu sendiri mulai melakukannya.
Janganlah kamu melarang orang dari melakukan keburukan sebelum kamu sendiri mulai
meninggalkannya.

4. Wahai hamba Allah, sambunglah orang yang memutuskan hubungan denganmu, maafkanlah
orang yang manganiaya dirimu, dan berilah orang yang tidak pernah memberi sesuatu
kepadamu.

5. Janganlah kamu melanggar apa yang kamu larang. Apabila kamu berkata hendaklah yang
ringkas, jangan ngelantur.

6. Janganlah kamu melakukan perbuatan rahasia, yang tidak baik jika kamu lakukan secara
terang-terangan. Jagalah dirimu dari segala sesuatu yang dapat menimbulkan dugaan yang
tidak baik mengenai agamamu dan duniamu.

7. Persedikitlah permintaanmu kepada orang lain, karena hal itu merupakan suatu kehinaan
pada dirimu.

8. Wahai hamba Allah, jauhkanlah dirimu dari orang yang kotor mulut, janganlah kamu duduk
dengan orang-orang yang lemah akhlaknya. Dari Ibnu Mas¶ud : ³Nilailah manusia itu dengan
teman-temannya, karena seseorang itu hanya berteman dengan orang yang seperti dirinya.´

9. Tolonglah orang yang teraniaya dan belalah dia semampumu serta cegahlah tangan orang
zalim agar tidak melakukan kezaliman. Sabda Nabi : ³Barangsiapa berjalan dengan orang
yang teraniaya sehingga ia dapat menetapkan haknya, maka Allah akan mengukuhkan
kakinya pada hari tergelincirnya kaki-kaki manusia (hari kiamat).´

10. ³Sesungguhny yang aku takutkan kepadamu ada dua macam : mengikuti hawa nafsu dan
panjang angan-angan.´ (Alhadits)
Ingatlah bahwa menuruti hawa nafsu itu akan menghalangi orang melakukan kebenaran, dan
panjang angan-angan itu menjadikan orang lupa akherat dan lupa Allah Azza wa Jalla.

11. Wahai hamba Allah, terimalah permintaan maaf orang yang meminta maaf kepadamu, dan
tariklah apa yang kamu benci. Sabda Nabi : ³Barangsiapa meminta maaf kepada saudaranya
sesama muslim, lantas dia (yang dimintai maaf) tidak menerimanya, maka dia berdosa
sebagai orang yang berbuat jahat.´

12. Kasihanilah orang lain niscaya Allah mengasihani kamu. Jika kamu tidak mengasihi orang
lain, maka Allah pun tidak akan mengasihimu.

13. Hendaklah kamu suka mentaati Allah niscaya Allah akan mencintaimu dan menjadikan
mahluk-Nya cinta kepadamu.

14. Wahai hamba Allah, apabila kamu bersumpah untuk melakukan sesuatu yang bukan
merupakan ketaatan kepada Allah, maka janganlah kamu melaksanakannya, dan bayarlah
kafarat untuknya.

15. Berterima kasihlah kepada orang lain atas kebaikan mereka kepadamu, dan balaslah
kebaikannya itu jika kamu mampu.

16. Janganlah kamu bertengkar dengan seseorang sekalipun kamu benar. Jika kamu hendak
melakukan sesuatu dari urusan dunia, maka pikirkanlah akibatnya.

17. Wahai hamba Allah, janganlah kamu merasa suka jika seseorang ditimpa sesuatu yang kamu
sendiri tidak suka mengalaminya.

18. Sabda Nabi : ³Tiadalah Allah memberi suatu nikmat kepada seseorang lalu ia mengucapkan
alhamdulillah, melainkan sikap dan ucapan yang demikian itu lebih besar daripada nikmat itu
sendiri, meski sebesar apapun nikmat itu.´

19. Jika kamu ingin melakukan sesuatu yang merupakan ketaatan kepada Allah, maka janganlah
kamu menunda-nunda jika kamu dapat melakukannya segera, karena dirimu sendiri tidak
dijamin aman dari peristiwa-peristiwa yang bakal terjadi. Jika kamu punya keinginan lain
yang bukan merupakan ketaatan kepada Allah, jika kamu dapat untuk tidak
melaksanakannya, maka janganlah kamu laksanakan. Semoga Allah memberikan kesibukan
lain untukmu sehingga kamu meninggalkannya.

20. Janganlah kamu menyebut-nyebut kebaikan yang pernah kamu berikan kepada seseorang,
karena yang demikian itu dapat menghilangkan pahalamu.
Jika ada orang yang berbuat kebaikan kepadamu sedang kamu tidak dapat membalasnya,
maka pujilah dia dan sebut-sebutlah.

21. Kalau kamu telah bersumpah untuk melakukan sesuatu sedangkan orangtuamu atau salah
satunya bersumpah agar kamu melakukan sesuatu yang berbeda dengan yang kamu
kehendaki, maka taatilah kedua orang tuamu asalkan perintah mereka itu bukan maksiat.

22. Jadilah kamu seakan-akan malaikat pencabut nyawa telah mencabut nyawamu, seakan-akanbumi menelanmu, seakan-akan gelombang dahsyat menyedotmu kedalam lautan dan meneggelamkanmu. Barangsiapa telah sampai pada kondisi ini niscaya hukum sebab akibat
tidak berpengaruh lagi bagimu. Karena, keberadaan itu hanyalah menurut pandangan lahiriah
saja, bukan menurut alam batin.

23. Wahai manusia jahil, kamu ingin mengubah dan mengganti kehendak-Nya, apakah kamu
mengaku menjadi tuhan kedua setelah Allah Azza wa Jalla, dimana kamu memaksa Dia agar
menyesuaikan suatu hal menjadi kebalikannya.

24. Orang-orang yang beriman itu tetap bertahan dari cobaan dan ujian Allah, bahkan cobaan
dan ujian tersebut malah mengantarkan dirinya ke puncak kebaikan, baik didunia maupun di
akherat. Dalam menghadapi cobaan dan ujian tersebut adalah menerima dan sabar dalam
menghadapinya tanpa mengadu kepada orang lain atau meminta bantuan pada selain Allah,
bahkan saat itu dia lebih giat dan lebih sibuk bersama Allah Azza wa Jalla.

25. Siapa yang tidak berbudi dengan pendidikan syariat, niscaya dia akan dididik dengan api
neraka dihari kiamat nanti.

26. Wahai hamba Allah, bertobatlah kamu. Apakah kamu tidak tahu bahwa Allah Azza wa Jalla
menguji kamu dengan suatu ujian itu agar kamu bertobat kepada-Nya, tetapi kamu tidak
memikirkan untuk melepas maksiat terhadap-Nya ?

27. Wahai hamba Allah, manusia telah disediakan celaan dan pujian seperti musim panas dan
musim dingin, atau seperti siang dan malam. Keduanya sama-sama tidak lepas dari
pengawasan Allah. Oleh karena itu tidak seorangpun yang mampu mendatangkan celaan dan
pujian atau salah satunya, kecuali dengan izin Allah. Apabila hal tersebut telah jelas bagimu,
maka kamu tidak perlu bangga dengan pujian dan tidak cemas dengan adanya celaan.

28. Wahai manusia, celaka benar kamu yang mengikuti perbuatan ahli neraka tetapi
mengharapkan surga. Ini menunjukkan kerakusanmu yang tidak pada tempatnya, karena
kamu tidak berhak memperoleh apa yang kamu harapkan itu dikarenakan jalan yang kamu
tempuh adalah menyimpang jauh. Janganlah kamu terperdaya oleh kenikmatan dunia yang
kamu sangka kamu peroleh. Padahal dalam waktu dekat hal itu akan tercabut darimu. Allah
akan merendahkan kehidupanmu sehingga kamu tunduk dan patuh kepada-Nya.

29. Wahai hamba Allah, jadilah kamu orang yang benar, tentu kamu akan baik. Jadilah kamu
pembenar dalam hukum tentu kamu baik dalam keilmuan. Jadilah kamu baik dalam perasaan
tentu kamu baik dalam kenyataan. Setiap keselamatan yang ada dalam ketundukan kepada
Allah adalah sebagai perwujudan dari melaksanakan segala perintah dan menjauhi segala
larangan-Nya serta sabar atas ketentuan-Nya. Barangsiapa menuruti Allah tentu Allah
mengabulkan permohonannya dan doanya, dan siapa yang tunduk kepada Allah tentu orang
lain akan tunduk kepadanya.

30. Wahai hamba Allah, tunduklah kamu kepada-Nya untuk mencari ridlo-Nya. Jagalah sesuatu
yang diberikan dan yang menyebabkan siksa. Taat kepada Allah adalah melaksanakan segala
perintah dan menghentikan segala yang dilarang serta bersabar atas ketentuan-Nya.
Bertobatlah kamu, menangislah dihadapan-Nya, rendahkanlah dirimu dengan derai airmata
sepenuh hati. Menangis karena takut kepada-Nya itu suatu ibadah dan mata yang menangis
karena takut Allah itu tidak akan tersentuh oleh panasnya api neraka diakherat nanti, maka
menangislah kamu karena menangis itu membawa manfaat bagimu.

Wahai hamba Allah, mengapa kamu menuhankan dirimu, berita apa yang kamu terima
sampai kamu sombong kepada Allah Azza wa Jalla. Mengapa kamu berkehendak selain yang
Dia kehendaki, bahkan kamu cinta musuh-musuh-Nya, setan yang terkutuk. Mengapa jika
keputusan Tuhan telah tiba kamu berontak tidak sabar, bahkan kamu lari dan mencabut apa
yang menjadi kehendak-Nya.

31. Sabda Nabi : “Apabila seorang hamba malas dalam beramal, niscaya Allah Azza wa Jalla
mengujinya dengan rasa duka cita.” (Alhadits)
Siapapun yang malas beramal, maka akan memperoleh cobaan dari Allah berupa duka cita,
kegoncangan, dan kesusahan. Ujian itu mungkin berupa surutnya rezeki sehingga hatinya
ragu dan susah, dan ujian duka cita itu menetap dalam hatinya sehingga apapun yang
dihadapinya selalu dihantui oleh perasaan susah dan goncang, hatinya tidak tenang,
perasaannya selalu pesimis dan selalu dihantui perasaan kurang, kurang baik, kurang banyak,
kurang cantik, kurang sempurna, dimana perasaan goncang seperti itu karena malas beramal
dan sedikitnya melakukan ketaatan kepada Allah Azza wa Jalla.

32. Sabda Nabi
: “Barangsiapa hari-harinya sama berarti ia tertipu. Dan barangsiapa hari
kemarennya lebih baik daripada hari ini berarti ia tertutup dari rahmat.” (Alhadits)

33. Tobat itu landasan iman, penekunannya terletak dalam berdzikir dan taat kepada-Nya. Jika
ditekuni niscaya dzikir itu menjadi obat jiwa. Bertobatlah dengan lisan iman, niscaya
membawa keberuntungan. Jadikanlah iman sebagai pedangmu ketika datang ujian Allah.

34. Bertobatlah kepada Allah, janganlah kamu beramal baik kecuali untuk-Nya, jangan kamu
tujukan kepada dunia atau kepada akherat. Jadilah kamu seperti orang yang berhasrat
kepada-Nya semata, berikan hak ketuhanan-Nya. Dia harus kamu sembah. Janganlah kamu
beramal untuk mencari pujian, rezekimu itu tidak bertambah atau berkurang, karena sesuatu
yang telah diputuskan untukmu itu pasti datang, baik yang berupa kebaikan atau keburukan.
Persempitlah kerakusanmu dan jadikanlah kematian sebagai titik pandangmu agar kamu
tidak terlalu menyimpang jauh dari kebenaran.

35. Wahai hamba Allah, sibukkanlah dirimu untuk membantu orang-orang yang terjepit, orang-
orang yang teraniyaya. Berikanlah waktumu kepada orang-orang fakir miskin yang
terpedaya, karena jika waktumu tersita untuk menolong hamba-hamba Allah, adalah sama
halnya kamu menolong Allah Azza wa Jalla.

36. Tinggalkanlah berbesar diri dihadapan Allah atau terhadap sesamamu, karena perbuatan itu
termasuk diantara sifat orang sombong yang muka mereka akan diasah oleh Allah dengan api
jahanam. Termasuk orang sombong pula jika kamu marah kepada-Nya. Seperti halnya jika
kamu mendengar suara adzan tetapi tidak menjawabnya, tidak bersegera mengerjakan sholat
maka berarti kamu telah berlaku sombong kepada Allah. Dan bila manusia berbuat aniaya
terhadap sesamanya berarti ia telah berbuat sombong dihadapan-Nya.

37. Janganlah kamu menganggap dirimu lebih berharga, lebih mulia, lebih terhormat, lebih kuat,
lebih gagah,  dan lebih pandai daripada orang lain. Karena, sifat demikian adalah
kesombongan dimana karena mempunyai sifat serba merasa lebih inilah akhirnya menolak
kebenaran dan merendahkan orang lain.
³Sombong itu menolak kebenaran dan menghinakan orang lain.´ (Alhadits, Muslim)

38. Dilihat dari sasarannya, ada 3 macam sombong :
?    Sombong kepada Allah, dalam arti tidak memperhatikan sama sekali ancaman-ancaman
Allah, syariat Allah dianggap suatu hal yang remeh, dan tidak mau mengamalkannya.
Kalau manusia sudah bersifat seperti itu, maka tidak tertutup kemungkinan timbul dalam
jiwanya sifat jahat, tidak peduli lagi terhadap aturan-aturan yang berlaku.
?    Sombong kepada Rasulullah saw, yaitu tidak mengindahkan  sama sekali aturan-aturan
Rasulullah saw, bahkan Rasulullah saw dianggap sebagaimana manusia biasa yang tak
perlu diperhatikan ucapannya. Dan hadits-hadits Rasulullah saw dianggapnya seperti
omongan manusia yang tidak mengandung hikmah dan pelajaran bagi manusia. Ia lebih
mementingkan pikirannya daripada ucapan Rasulullah saw.
?    Sombong terhadap sesama manusia, yaitu orang lain dianggap hina dan rendah, tidak
perlu dihormati, dan bila perlu manusia harus menghormat kepadanya. Akhirnya timbul
rasa bangga terhadap dirinya sendiri, ingin dihormati, ingin diperhatikan, dan lain-lain
sifat tercela tumbuh dalam jiwanya. Orang yang sombong tidak pantas bagi dirinya
kecuali memperoleh siksa neraka.

39. Wahai hamba Allah, carilah kedudukan disisi Allah, impikanlah, dan jadikanlah
kecenderunganmu untuk-Nya, tinggalkanlah mencari dunia karena hal itu tidak akan
memberi kepuasan, karena selain Allah tidak akan pernah memuaskanmu. Oleh karena itu
rapatkan dirimu dengan-Nya, karena dengan cara itulah kamu akan mampu memuaskan
hatimu, dan jika berhasil tentu bisa mencapai kecukupan dunia akherat. Butuhkan dirimu
hanya kepada-Nya, carilah Dia yang mencintaimu, cintailah Dia yang mencintaimu, dan
sibukkan dirimu bersama-Nya agar kamu termasuk orang-orang yang selalu mencintai-Nya

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar